BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Agama
merupakan bidang studi yang mempelajari kehidupan dimasa yang lalu, sekarang, dan
akan datang, salah satu didalamnya yaitu sifat adil yang masih
terbagi-bagi dalam beberapa macam. Kebanyakan siswa-siswi beranggapan bahwa
pelajaran agama itu sulit
karena terlalu banyak penjelasan-penjelasan dan tulisan-tulisan yang membuat mereka rumit untuk membaca dan
dimengertinya. Inilah yang menjadi salah satu latarbelakang mengapa
kami membuat makalah agama ini, selain
untuk penambah nilai dalam bidang studi tersebut.
B.
Tujuan
-
Menambah
ilmu
-
Untuk
mengetahui macam-macam
sifat adil.
-
Untuk mengetahui keberlakuan sifat adil
C.
Manfaat
-
Ilmu bertambah
-
Kami jadi
mengetahui macam-macam
sifat adil
-
Kami jadi
mengetahui keberlakuan
sifat adil
Bab II PEMBAHASAN
A.
Pengertian sifat adil
Kata
adil, artinya dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Misalnya dalam
menetapkan hukum, yang salah disalahkan dan yang benar di benarkan, dengan
tidak membedakan yang diadili. Sifat adil artinya, suatu sifat yang teguh,
kukuh yang tidak menunjukkan memihak kepada seorang atau golongan. Adil itu
sikap mulia dan sikap yang lurus tidak terpengaruh karena factor keluarga,
hubungan kasih sayang, kerabat karib, golongan dan sebagainya.
Pengertian adil menurut Ilmu Akhlak antara lain
sebagai berikut:
1. Menempatkan sesuatu pada tempat yang
semestinya.
2. Menerima hak tanpa lebih dan
memberikan hak kepada orang lain tanpa kurang.
3. Memberikan hak setiap yang berhak
secara lengkap tidak kurang dan memberikan hukuman bagi yang melanggar hokum
sesuaimdengan kesalahan pelanggarnya.
Sesungguhnya
ALLAH SWT. maha adil dan ALLAH SWT menetapkan bahwa setiap manusia
masing-masing bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Seseorang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan tidak memperoleh pahalah selain
apa yang diusahakannya sendiri. Terhadap semua hasil seseorang itu, nantinya
ALLAH SWT akan membalas dengan yang setimpal dan penuh keadilan.
Firman
Allah di dalam Al-Qur’an yang mamarintahkan berbuat adil antara lain:
Al-Qur’an
surat Al-Maidah ayat 8
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ
لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ
تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ
اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang
beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Berlaku adil harus diterapkan kapada
siapa saja tanpa membedakan suku,agama atau status sosial.Bahkab perlaku adil
diterapkan kepada keluarga dan kerabat sendiri.Sebagaimana firman Allah berikut
ini
Al-Qur’an
surat An-nisa Ayat 135
Artinya:
“Wahai orang-orang yang
beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi
karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
Jika ia[361]
kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu
memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah
adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
Dalam
ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada hambanya yang beriman supaya
menjadi orang yang benar-benar menegakkan keadilan ditengah masyarakat.Berani
menjadi saksi akrena Allah,walaupun yang menjadi tergugat dan terdakwa adalah
diri sendiri,orang tua dan kerabat.
Oleh
karena itu hukum harus diterapkan secara adil kepada semua masyarakat,karena
sekali ada pihak yang merasa dizalimi dengan cara diperlakukan secara tidak
adil,maka akan menimbulkan gejolak.Firman Allah lain tentang dali terdapat
dalam surat An Nahl ayat 90
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku ADIL
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu daoat mengambil pelajaran.”
Islam
memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia. yaitu
keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dicintai, dan keadilan seorang
Muslim terhadap orang yang dibenci. Sehingga perasaan cinta itu tidak
bersekongkol dengan kebathilan, dan perasaan benci itu tidak mencegah dia dari
berbuat adil (insaf) dan memberikan kebenaran kepada yang berhak.
Berlaku adil dapat dikelompokkan
menjadi 4 yaitu :
1.
Berlaku adil kepada ALLAH SWT.
Berlaku
adil kepada ALLAH SWT. artinya harus dapat menempatkan ALLAH pada tempat-Nya
yang benar, yakni sebagai makhluk ALLAH SWT, dengan teguh melaksanaka apa
yang diwajibkan kepada kita, sehingga benar-benar ALLAH sebagai tuhan
kita.
Untuk
mewujudkan keadilan kita kepada allah, maka kita wajib beriman kepada ALLAH
SWT, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain, mengimani Nabi Muhammad
SAW sebagai utusannya. menjunjung tinggi petunjuk dan kebenaran dari padanya,
yaitu mengimani Al Qur’an sebagai wahyu ALLAH, menaati ketentuannya yaitu
melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangan-larangannya. Menyembah
kepadanya yaitu melaksanakan Shalat, Zakat, Puasa dan sebagainya.
2.
Berlaku adil pada diri sendiri
Artinya
menempati diri pribadi pada tempat yang baik dan benar. Untuk itu kita harus
teguh, kukuh menempatkan diri kita agar tetap terjaga dan terpelihara daam
kebaikan dan keselamatan. Jangan menganiayah diri sendiri dengan mengikuti hawa
nafsu, minum-minuman keras, dusta, enggan berbuat baik dan jangan berbuat
kemudharatan (keburukan) yang akibatnya akan buruk pula pada kesehatan, jiwa
harta dan kehormatan diri. kita harus menjaga dan memelihara agar diri sendiri
hidup selamat bahagia didunia dan diakhirat kelak. Kita harus jujur- terhadap
diri sendiri, jika diri kita berbuat salah, kita harus berani mengoreksi.
3.
Berlaku adil kepada orang lain
Artinya
menempatkan orang lain pada tempat yang sesuai, layak dan benar. Kita harus
memberi hak orang lain dengan jujur dan benar, tidak mengurangi sedikitpun hak
yang harus diterimah. Tidak boleh menyakiti dan merugikan orang lain, baik
berupa material maupun non material. Kalau kita menjadi hakim, putuskanlah
perkara yang adil. Kalau menjadi pelayan masyarakat, maka layanilah itu dengan
baik dan adeil.
4.
Berlaku adil kepada makhluk lain.
Artinya
dapat menempatkan pada tempat yang sesuai, misalnya adil pada binatang, harus
menempatkannya pada tempat yang layak menurut kebiasaan binatang tersebut. Jika
memelihara binatang harus disediakan tempat dan maka nannya yang memadai. Jika
binatang itu akan dimanfaatkan untuk kendaraan atau usaha pertanian, hendaknya
dengan cara yang wajar, jangan member beban yang malampaui batas. demikian pua
jika hendak dimakan, maka hendaklah disembelih dengan cara yang telah ditentukan
oleh ajaran agama, dengan cara yang baik yang tidak menimbulkan kesakitan bagi
binatang itu. Menjaga kelestarian lingkungan juga termasuk berbuat adil kepada
makhluk lain.
B.
Keutamaan Berbuat Adil
Keutamaan
berbuat adil adalah
1.
Terciptanya rasa aman, tenang dan
tentram dalam jiwa dan ada rasa khawatir kepada orang lain, karena tidak pernah
melakukan perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain.
2.
Membentuk pribadi yang dapat
melaksanakan kewajiban dengan baik, taat dan patuh kepada ALLAH SWT,
melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.
3.
Menciptakan ketenteraman dan
kerukunan hidup, hubungan yang harmonis dan tertib dengan orang lain.
4.
Dalam memanfaatkan alam sekitar
untuk kemasyalatan dan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat.
C. Bidang-bidang Keadilan
Beberapa bidang keadilan yang wajib ditegakkan, antara lain:
Beberapa bidang keadilan yang wajib ditegakkan, antara lain:
1.
Keadilan Hukum
Allah telah memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan hukum, kendati pada diri dan keluarga kita sendiri. Ketegasan tanpa pandang bulu inilah yang juga diteladankan Nabi Muhammad Saw.
Diriwayatkan, pada masa beliau, seorang perempuan dari keluarga bangsawan Suku al-Makhzumiyah bernama Fatimah al-Makhzumiyah ketahuan mencuri bokor emas. Pencurian ini membuat jajaran pembesar Suku al-Makhzumiyah gempar dan sangat malu. Apalagi, jerat hukum saat itu mustahil dihindarkan, karena Nabi Muhammad Saw sendiri yang menjadi hakim-nya.
Bayang-bayang Fatimah al-Makhzumiyah akan menerima hukum potong tangan terus menghantui mereka. Dan jika hukum potongan tangan ini benar-benar diterapkan, mereka akan menanggung aib maha dahsyat, karena dalam pandangan mereka seorang keluarga bangsawan tidak layak memiliki cacat fisik. Lobi-lobi politis pun digalakkan supaya hukum potong tangan itu bisa diringankan atau bahkan diloloskan sama sekali dari Fatimah al-Makhzumiyah. Uang berdinar-dinar emas dihamburkan untuk upaya itu.
Puncaknya, Usamah bin Zaid, cucu Nabi Muhammad Saw dari anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah, lantas dinobatkan sebagai pelobi oleh Suku al-Makzumiyah. Kenapa Usamah? Karena Usamah adalah cucu yang sangat disayangi Nabi. Melalui orang kesayangan Nabi ini, diharapkan lobi itu akan menemui jalan mulus tanpa rintangan apapun, sehingga upaya meloloskan Fatimah dari jerat hukun bisa tercapai. Apa yang terjadi?
Upaya lobi Usamah bin Zaid, orang dekatnya, itu justru mendulang dampratan keras dari Nabi Muhammad Saw, bukannya simpati. Ketegasan Nabi dalam menetapkan hukuman tak dapat ditawar sedikitpun, hatta oleh orang dekatnya. Untuk itu, Nabi lantas berkata lantang: “Rusaknya orang-orang terdahulu, itu karena ketika yang mencuri adalah orang terhormat, maka mereka melepaskannya dari jerat hukum. Tapi ketika yang mencuri orang lemah, maka mereka menjeratnya dengan hukuman. Saksikanlah! Andai Fatimah bint Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Itulah ketegasan Nabi dalam menegakkan hukum, hatta pada orang yang paling disayanginya sekalipun.
2. Keadilan Ekonomi
Islam tidak menghendaki adanya ketimpangan ekonomi antara satu orang dengan yang lainnya. Karena itu, (antara lain) monopoli (al-ihtikar) atau apapun istilahnya, sama sekali tidak bisa dibenarkan. Nabi Muhammad Saw misalnya bersabda: Tidak menimbun barang kecuali orang-orang yang berdosa. (HR. Muslim). Orang yang bekerja itu diberi rizki, sedang orang yang menimbun itu diberi laknat. (HR. Ibnu Majah). Siapa saja yang menyembunyikan (gandum atau barang-barang keperluan lainnya dengan mengurangi takaran dan menaikkan harganya), maka dia termasuk orang- orang yang zalim.
Larangan demikian juga ditemukan dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman:” Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja. Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang Dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (Surat al-Hasyr/59: 7).
Umar bin al-Khattab (khalifah Islam ke-2) pernah mengumumkan pada seluruh kawulanya, bahwa menimbun barang dagangan itu tidak sah dan haram. Menurut riwayat Ibnu Majah, Umar berkata, “Orang yang membawa hasil panen ke kota kita akan dilimpahkan kekayaan yang berlimpah dan orang yang menimbunnya akan dilaknat. Jika ada orang yang menimbun hasil panen atau barang-barang kebutuhan lainnya sementara makhluk Tuhan (manusia) memerlukannya, maka pemerintah dapat menjual hasil panennya dengan paksa.”
Dalam kaca mata Umar, pemerintah wajib turun tangan untuk menegakkan keadilan ekonomi. Sehingga ketika ada oknum-oknum tertentu melakukan monopoli, sehingga banyak pihak yang terugikan secara ekonomi, pemerintah tidak bisa tinggal diam apalagi malah ikut menjadi bagian di dalamnya. Mebiarkan dan atau menyetujui perbuatan mereka sama halnya berbuat kezaliman itu sendiri.
3. Keadilan Politik
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil (imamun adil), pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: "Aku takut kepada Allah", seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.” (HR Bukhari)
Pemerintah atau pemimpin yang adil akan memberi hak pada yang berhak, yang komitmen bertanggungjawab pada warganya. Tidak mudah menjadi pemimpin adil. Karena itu, kita tidak seharusnya berebut menjadi pemimpin. Inilah sebabnya Umar bin al-Khattab menolak usul pencalonan anaknya, Abdullah bin Umar, sebagai penggantinya. Namun prinsipnya, Islam memandang siapapun berhak menjadi pemimpin tanpa melihat latar belakangnya, hatta orang Habasyah (Etiopia sekarang) yang rambutnya kriting laksana gandum sekalipun. Dan, sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW, kepemimpinannya harus ditaati.
4. Keadilan Berkeyakinan
Islam memberikan kebebasan penuh bagi siapapun untuk menjalankan keyakinan yang dianutnya. Termasuk keyakinan yang berbeda dengan Islam sekalipun. Konsekuensinya, kebebasan mereka ini tidak boleh diganggu-gugat. Bahkan Muhammad Syahrûr menyatakan, percaya pada kekebasan manusia adalah satu dasar akidah Islam yang pelakunya dapat dipercayai beriman pada Allah SWT. Sebaliknya, kufr adalah tidak mengakui kebebasan manusia untuk memilih beragama atau tidak beragama.
Bukti kebebasan ini, antara lain: Allah SWT berfirman:” Allah lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk”. (Surah al-Nahl/16: 125). Redaksi yang mirip bisa ditemukan juga pada Sûrah al-Najm/53: 30 dan Sûrah al-Qalam/68: 7.
Dan katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir…. (Sûrah al-Kahf/18: 29).
Tidak ada paksaan untuk memasuki agama. Sesungguhnya telah jelas-jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, siapa yang ingkar kepada taghut dan yang beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Sûrah al-Baqarah/2: 256).
Yang penting diperhatikan, adalah bahwa pilihan kepercayaan apapun yang kita anut, semua memiliki konsekuensinya masing-masing. Kesadaran untuk memilih keyakinan harus pula dibarengi oleh kesadaran akan konsekuensinya. Sehingga, pilihan kita betul-betul sebagai “pilihan yang bertanggungjawab” dan “bisa dipertanggungjawabkan.”
Allah telah memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan hukum, kendati pada diri dan keluarga kita sendiri. Ketegasan tanpa pandang bulu inilah yang juga diteladankan Nabi Muhammad Saw.
Diriwayatkan, pada masa beliau, seorang perempuan dari keluarga bangsawan Suku al-Makhzumiyah bernama Fatimah al-Makhzumiyah ketahuan mencuri bokor emas. Pencurian ini membuat jajaran pembesar Suku al-Makhzumiyah gempar dan sangat malu. Apalagi, jerat hukum saat itu mustahil dihindarkan, karena Nabi Muhammad Saw sendiri yang menjadi hakim-nya.
Bayang-bayang Fatimah al-Makhzumiyah akan menerima hukum potong tangan terus menghantui mereka. Dan jika hukum potongan tangan ini benar-benar diterapkan, mereka akan menanggung aib maha dahsyat, karena dalam pandangan mereka seorang keluarga bangsawan tidak layak memiliki cacat fisik. Lobi-lobi politis pun digalakkan supaya hukum potong tangan itu bisa diringankan atau bahkan diloloskan sama sekali dari Fatimah al-Makhzumiyah. Uang berdinar-dinar emas dihamburkan untuk upaya itu.
Puncaknya, Usamah bin Zaid, cucu Nabi Muhammad Saw dari anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah, lantas dinobatkan sebagai pelobi oleh Suku al-Makzumiyah. Kenapa Usamah? Karena Usamah adalah cucu yang sangat disayangi Nabi. Melalui orang kesayangan Nabi ini, diharapkan lobi itu akan menemui jalan mulus tanpa rintangan apapun, sehingga upaya meloloskan Fatimah dari jerat hukun bisa tercapai. Apa yang terjadi?
Upaya lobi Usamah bin Zaid, orang dekatnya, itu justru mendulang dampratan keras dari Nabi Muhammad Saw, bukannya simpati. Ketegasan Nabi dalam menetapkan hukuman tak dapat ditawar sedikitpun, hatta oleh orang dekatnya. Untuk itu, Nabi lantas berkata lantang: “Rusaknya orang-orang terdahulu, itu karena ketika yang mencuri adalah orang terhormat, maka mereka melepaskannya dari jerat hukum. Tapi ketika yang mencuri orang lemah, maka mereka menjeratnya dengan hukuman. Saksikanlah! Andai Fatimah bint Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Itulah ketegasan Nabi dalam menegakkan hukum, hatta pada orang yang paling disayanginya sekalipun.
2. Keadilan Ekonomi
Islam tidak menghendaki adanya ketimpangan ekonomi antara satu orang dengan yang lainnya. Karena itu, (antara lain) monopoli (al-ihtikar) atau apapun istilahnya, sama sekali tidak bisa dibenarkan. Nabi Muhammad Saw misalnya bersabda: Tidak menimbun barang kecuali orang-orang yang berdosa. (HR. Muslim). Orang yang bekerja itu diberi rizki, sedang orang yang menimbun itu diberi laknat. (HR. Ibnu Majah). Siapa saja yang menyembunyikan (gandum atau barang-barang keperluan lainnya dengan mengurangi takaran dan menaikkan harganya), maka dia termasuk orang- orang yang zalim.
Larangan demikian juga ditemukan dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman:” Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja. Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang Dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (Surat al-Hasyr/59: 7).
Umar bin al-Khattab (khalifah Islam ke-2) pernah mengumumkan pada seluruh kawulanya, bahwa menimbun barang dagangan itu tidak sah dan haram. Menurut riwayat Ibnu Majah, Umar berkata, “Orang yang membawa hasil panen ke kota kita akan dilimpahkan kekayaan yang berlimpah dan orang yang menimbunnya akan dilaknat. Jika ada orang yang menimbun hasil panen atau barang-barang kebutuhan lainnya sementara makhluk Tuhan (manusia) memerlukannya, maka pemerintah dapat menjual hasil panennya dengan paksa.”
Dalam kaca mata Umar, pemerintah wajib turun tangan untuk menegakkan keadilan ekonomi. Sehingga ketika ada oknum-oknum tertentu melakukan monopoli, sehingga banyak pihak yang terugikan secara ekonomi, pemerintah tidak bisa tinggal diam apalagi malah ikut menjadi bagian di dalamnya. Mebiarkan dan atau menyetujui perbuatan mereka sama halnya berbuat kezaliman itu sendiri.
3. Keadilan Politik
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil (imamun adil), pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: "Aku takut kepada Allah", seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.” (HR Bukhari)
Pemerintah atau pemimpin yang adil akan memberi hak pada yang berhak, yang komitmen bertanggungjawab pada warganya. Tidak mudah menjadi pemimpin adil. Karena itu, kita tidak seharusnya berebut menjadi pemimpin. Inilah sebabnya Umar bin al-Khattab menolak usul pencalonan anaknya, Abdullah bin Umar, sebagai penggantinya. Namun prinsipnya, Islam memandang siapapun berhak menjadi pemimpin tanpa melihat latar belakangnya, hatta orang Habasyah (Etiopia sekarang) yang rambutnya kriting laksana gandum sekalipun. Dan, sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW, kepemimpinannya harus ditaati.
4. Keadilan Berkeyakinan
Islam memberikan kebebasan penuh bagi siapapun untuk menjalankan keyakinan yang dianutnya. Termasuk keyakinan yang berbeda dengan Islam sekalipun. Konsekuensinya, kebebasan mereka ini tidak boleh diganggu-gugat. Bahkan Muhammad Syahrûr menyatakan, percaya pada kekebasan manusia adalah satu dasar akidah Islam yang pelakunya dapat dipercayai beriman pada Allah SWT. Sebaliknya, kufr adalah tidak mengakui kebebasan manusia untuk memilih beragama atau tidak beragama.
Bukti kebebasan ini, antara lain: Allah SWT berfirman:” Allah lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk”. (Surah al-Nahl/16: 125). Redaksi yang mirip bisa ditemukan juga pada Sûrah al-Najm/53: 30 dan Sûrah al-Qalam/68: 7.
Dan katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir…. (Sûrah al-Kahf/18: 29).
Tidak ada paksaan untuk memasuki agama. Sesungguhnya telah jelas-jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, siapa yang ingkar kepada taghut dan yang beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Sûrah al-Baqarah/2: 256).
Yang penting diperhatikan, adalah bahwa pilihan kepercayaan apapun yang kita anut, semua memiliki konsekuensinya masing-masing. Kesadaran untuk memilih keyakinan harus pula dibarengi oleh kesadaran akan konsekuensinya. Sehingga, pilihan kita betul-betul sebagai “pilihan yang bertanggungjawab” dan “bisa dipertanggungjawabkan.”
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sifat
adil artinya, suatu sifat yang teguh, kukuh yang tidak menunjukkan memihak
kepada seorang atau golongan. Adil itu sikap mulia dan sikap yang lurus tidak
terpengaruh karena factor keluarga, hubungan kasih sayang, kerabat karib,
golongan dan sebagainya.
Berlaku
adil dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu
1.
Berlaku adil kepada ALLAH SWT.
2.
Berlaku adil pada diri sendiri
3.
Berlaku adil kepada orang lain
4.
Berlaku adil kepada makhluk lain.
B. saran
Dengan
adanya materi yang kami buat ini, para teman-teman dapat menanamkan sifat adil
pada diri agar tercipta kebahagiann yang selalu diharapkan. Kami berharap juga,
agar makalah kami ini dapat merespon teman-teman agar dapat bersikap adil
terhadap semua yang ada baik yang menciptakan dan maupun yang diciptakan. Oleh
karena itu, kami mengajak teman-teman sekalian untuk membaca dan mencermatinya
dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Soeyoeti,
Drs. H Zarkowi.1995/1996.pendidikan agama islam untuk smu.jakarta:direktora
jendral Pembina kelembagaan agama islam
Tim
Cendikia.2004. Pendidikan Agama Islam untuk SMA Bandung: Geneca Exact
Website:
1 komentar:
nah ini dia yang saya cari. maksih gan bisa buat belajar nih buat uas besok
Post a Comment